Janji pada Anak = Janji pada Tuhan

Bunda janji deh!

Iya, Bunda janji

Iya, nanti Bunda pulangnya nggak malem.

Ayah pulang 3 hari lagi, ya.

Kalo sudah gajian nanti Bunda belikan mainan.

Tantenya pulang dulu, ya, Dek. Mau ambil baju dulu, nanti kalau kamu udah tidur ke sini lagi.

Janji…janji…dan janji.

Berapa sering kita semua berjanji pada si kecil? Dan berapa persen dari janji yang diucapkan padanya lalu kita tepati tepat waktu?

Sering kali, orang tua menganggap buah hatinya hanyalah manusia berukuran kecil, berhati kecil, dan dengan kesadaran yang kecil pula. Lantas dengan itu orang tua tak menepati janjinya atau akhirnya ketika ditagih janjinya oleh si kecil mengelak dengan seribu alasan.

Padahal nyatanya, menepati janji pada si kecil akan membantunya belajar bahwa apapun harus dilakukan untuk menepati sebuah janji yang sudah terucap. Jika kita saja mudah melanggarnya, bagaimana dengan si anak ketika berjanji pada kita. Parahnya lagi bagaimana ia mengulang apa yang dicontohkan orang tuanya pada orang lain yang ia janjikan kelak saat dewasa.

Sebuah janji selalu diikuti kata upaya dan percaya. Lantas jika kita mengingkari sebuah janji, ingatlah bahwa si anak akan belajar janji hanyalah sebuah omong kosong yang bisa dilupakan tanpa usaha dan tak menghargai sebuah kepercayaan.

Bagaimana dengan saya?

Beberapa kali saya menyadari bahwa saya pun pernah mengingkari sesuatu yang saya janjikan pada Air. Terbukti dari kata ‘nanti ya….oke kapan-kapan…iya tunggu sampai….’ dan kalimat-kalimat sejenisnya. Terlebih kalimatnya nggak pasti banget. Kapan, ya kapan? Nanti, ya kapan? *maafken Bunda ya :P*

Dan ya, sekarang saya berusaha untuk lebih baik dalam menepati janji sama Air. Berikut yang saya lakukan:
1. Membuat kisaran waktu yang jelas, agar Air lebih mudah menagih janji. Di samping itu, saya juga lebih mudah mengira-ngira waktu ‘deadline’-nya. Misalnya, ‘hari Selasa ya, 3 hari lagi ya, tanggal 24 ya’, dan lainnya.

2. Membuat konfirmasi sebelum ‘deadline’ jika menghadapi kendala. Misalnya, ‘Air kan minta mainan Anu, nah ternyata Bunda sakit dan butuh uang untuk berobat, kira-kira gimana? Boleh nggak uangnya dipakai dulu. Kira-kira tanggal 28 Bunda akan beliin’.

3. Jika sampai melanggar karena lupa, ya minta maaf dan berserah pada Air enaknya Bundanya ini ‘dihukum’ apa. He-he.

Singkanya sih janji sama anak itu sama dengan janji sama Tuhan. Bukankah ia amanah yang Tuhan berikan? Maka saat kita melanggar janji pada si kecil, renungkan kembali akibat-akibatnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s