Anakku, Guruku

Pertama, postingan ini ditulis dengan mata yang bolak-balik antara monitor dan Air yang sedang berpetualang di alam mimpinya.

Kedua, postingan ini ditulis karena terinpsirasi sebuah dialog film yang baru saja ditonton “Esensi dari air adalah penerimaan.”

Jika nama adalah doa. Semoga pengejewantahan antara nama anakku, Air, dan dialog film tersebut adalah sebuah jawaban. Jawaban atas pengharapan saat mengelus-elus perut buncitku selama 9 bulan dan dan bincang-bincang mesraku yang lamat-lamat kulantunkan pada malam yang sepi.

Dialog 1

Air: “Bunda, Air mau tas yang itu karena gambar Princess-nya keren”

Bunda: (mengintip dompet) “Wah, uang Bunda gak cukup untuk beli yang itu. Air suka banget ya sama tas itu?”

Air: (ngangguk dengan muka menunduk)

Bunda: “Air mau beli yang lebih murah sekarang atau beli yang mahal tapi kita nabung dulu?”

Air: “Gapapa, Bunda. Sekarang Bunda yang pilihin aja buat aku, aku pasti seneng sama pilihan Bunda kok”

Bunda: “Wah gitu ya. Ya udah kalau Air seneng dipilihkan Bunda. Air sedih gak belum bisa beli tas itu?”

Air: “Hmm..gak papa. Aku nabung deh buat beli tas itu, belinya kapan-kapan aja”

Dialog 2

Bunda: “Air, maaf ya sekarang Bunda gak bisa beliin “istimewa” (barang/makanan kecil yg dibawa sepulang kantor) tiap hari lagi buat Air”

Air: “Kenapa, Bunda?”

Bunda: “Hmm… karena kata bos, waktu untuk Bunda membantu kantor sudah selesai” (menjelaskan bahwa Bunda di PHK looo…ihihi).

Air: “Gapapa Bunda, ada aku disini” Seraya membelai wajahku yang sedang rebahan di pangkuannya, lalu dicium.

Dialog 3

Bunda: “Air, maaf ya Bunda tadi marah-marah dan gak sabaran sama Air. Apa yang Air rasain tadi?”

Air: “Takut lihat wajah Bunda. Kenapa Bunda gitu?”

Bunda: “Maaf ya, soalnya Bunda suka gitu kalo lagi capeee dan lelaaaah banget”

Air: “Oh gitu ya, kalo cape kan harusnya istirahat bukan marah-marah” *sotoy bener ni anak

Bunda: “Ihihihi..iya ya..”

Air: (Setelah diam beberapa saat) “Eh Bunda, anak itu kan titipan dari Allaah ya. Aku titipan dong ya. Tau gak, sekarang aku bukan titipan lagi, soalnya Bunda udah ngurusin aku dengan baik” (meluk dan cium)

Bunda: *speechless

Air: “Aku gak mau kehilangan Bunda, Air sayang sama Bunda”

Anak adalah guru terbaik yang pernah ada dalam hidup. Dengan hati lembut dan jiwa bersihnya ia mampu membimbing kita tanpa merasa digurui. Anak tidak hanya memberi perubahan besar dalam hal perilaku, ia juga memberi sudut pandang baru dalam melihat dan menghargai hidup.

Ia memang berbadan kecil, namun berhati besar

Ia memang bertubuh mungil, namun berjiwa satria

Untukku, saat ini, ia adalah Airsyifa Swahira Waseso. Anakku, sahabatku, dan guruku.

Teerimaa kaasihh, Cik Gu…*dikeplak balon Upin Ipin

Advertisements

2 thoughts on “Anakku, Guruku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s