Hari gini masih moody?

Belakangan ini di Facebook, Twitter, YM, dan situs jejaring lainnya banyak yang menulis status:

“Lagi gak mood,mood-nya lagi turun, kejadian tadi pagi bikin mood gue ilang, lagi gak mood kerja, sampai awas jangan dekat-dekat sedang tidak mood.”

Atau ketika mendengar orang yang dengan lantang bilang:

“Wah gue kan orangnya moody, duh gimana yah ntar deh yah kalo gue mood-nya lagi bagus.”

So, kalo elo moody soooo whaaattttt?????

Jujur guys, gue eneg se-eneg-enegnya denger statement itu. Seakan kita boleh begitu saja menoleransi atau memberi keringanan ketika orang sedang tidak mood, seorang karyawan jadi boleh males,seorang anak boleh bermuka ketus seenaknya jika ditanya orang tua, seorang murid bisa gak ngerjain PR, dll.

Sejujurnya gue tau benar gimana rasanya di awal hari ada kejadian yang gak mengenakan (marah, sedih, kesal) trus bawaannya jadi agak malas. Hei, tapi apakah ketidakmampuan kita mengatur emosi boleh begitu saja dibebankan pada lingkungan sekitar? Bukankah yang pertama kali bertanggung jawab atas emosi kita adalah diri kita sendiri?

Jadi sebetulnya moody dan malas itu seperti obat pahit yang dilapisi gula-gula.

Setelah berbincang dengan ‘suhu’ Buntal bahwa orang menjadi bersembunyi di balik kata moody adalah hanya untuk menjadi lebih diperhatikan sebagai manifestasi memuaskan egonya sendiri. So, gue ko berasa orang yang melabel dirinya moody adalah orang yang malas dan enggan managing emosinya atau ingin melenakan diri sehingga meminta dimengerti.

Malas sebetulnya boleh, dimengerti juga boleh. Cuman yang jadi penyakit adalah jika kita yang malas lalu orang lain yang jadi repot. Minta dimengerti adalah hal wajar, tapi selalu ingin dimengerti itu yang bikin masalah. Bukankah orang dewasa adalah orang yang selalu berusaha mengerti sementara anak-anak selalu ingin dimengerti?

Tapi kata Buntal, celakanya makin banyak orang yang merasa bangga karena bisa menerima orang yang moody dengan merasa menjadi orang yang “pengertian” dan “penyayang. Sayangnya lagi, banyak orang yang tipe pelayan yang hidupnya jadi merasa berarti dengan melayani dan menyenangkan orang lain, namun dalam hal ini pelayanannya adalah keliru. Di samping itu, banyak orang yang hidupnya merasa berarti jika dilayani, dimanja, disenangkan terus-menerus. Sehingga jadinya wajar perilaku moody ini jadi makin menjamur. Padahal jika dunia tidak merespons orang yang moody sebetulnya dia sedang diajari mengatur emosinya.
Hmmm….bisa jadi mungkin karena efek pengasuhan yah. Somehow, orang tua merasa selalu ingin melindungi dan menyenangkan anak-anaknya, sehingga materi bahwa dunia ini tak seindah biasanya dan lalu pengajaran materi bagaimana bisa survive di dunia yang kejam ini tidak dikenalkan.
Apakah sekarang kita masih berbangga jadi orang yang moody? Please deh ah…malu sama umur…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s